Jumat, 2009 April 17

gombal TV




pingin tahu kebusukan TV. lihat aj. semakin banyak tayangan TV Indonesia yang semakin tidak bermutu. aku prihatin. dan biarlah desain ini menjadi wujud keprihatinanku ini.

Gombal = kain lap yang kotor dan tak berguna. sama kayak tayangan Televisi kita yang semakin tak berguna dan tak bermanfaat.

semoga masyarakat bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk

Label:

Kamis, 2009 April 09

pagi




Pagi yang cerah. Sudah lama aku tak menghiraukan cerahnya pagi seperti ini. Subhanallah, langit diatas sana berubah warna. Dari hitam menjadi merah, lalu biru, lalu terang benderang. Aku menjadi saksi keagunganMu ya Tuhan atas pergantian malam menjadi pagi ini.


Usai shubuh pagi ini, mumpung libur, aku berencana untuk berolahraga. Kaki ini terus melangkah hingga terhenti di sebuah sungai. Disana aku tertegun melihat pagi. Pagi yang segar tanpa polusi. Pagi yang hening tanpa keributan. Sungguh pagi yang indah.
Langit itu, tak seperti manusia, selalu mentaati perintahMu wahai Tuhan. Ia beredar menurut garis yang sudah Kau tentukan. Ia bersinar sesuai yang Kau perintahkan. Setiap hari, setiap pagi, ia berjalan, selalu dan selalu, tiada henti. Itulah wujud pengabdiannya padaMu. Sementara kami, manusia, selalu membangkang atas apa yang Kau perintahkan.


Langit itu, tak seperti manusia, selalu memberikan cahaya terbaiknya. Bukan untuk dirinya, tapi untuk makhluk yang lain yang terkadang sering meludahinya dengan asap tebal – asap dari corong-corong pabrik dan kepulan mulut orang-orang yang membakar uang dan paru-parunya dengan rokok. Sementara kami ? kami enggan melakukan sesuatu jika sesuatu itu tidak memberikan manfaat bagi kami. Sejuta rumus untung dan rugi akan kami ajukan demi mempertimbangkan pantaskah kami melakukan sesuatu demi orang lain. Sungguh egois kami ini.


Terkadang kami bergurau atas ayat-ayatMu. Terkadang kami melupakan sholat yang sudah menjadi perintahMu. Kami pun sering mengabaikan panggilan adzanMu yang luarbiasa indahnya itu. Lalu kami pun tersungkur, menangis, atas kesalahan yang kami buat. Namun… tak perlu satu hari, tak lama setelah kami menangis, kami pun tertawa kembali. Bahkan menertawakan kenapa kami harus menangis.


Pagi, darinya aku belajar tentang sebuah pengabdian yang tinggi. Sebuah penghormatan atas kuasa Illahi.


Pagi, darinya aku belajar tentang sebuah kerja keras tanpa lelah. Sebuah ke-istiqamah-an yang luar biasa tanpa berhenti. Sebuah keikhlasan untuk memberi tanpa keinginan untuk mendapatkan kembali.


Kawan, jika esok masih ada pagi. Semoga Allah memberi kita kesempatan untuk menemuinya. Maka kawan, jika kesempatan itu ada, jangan sia-siakan pertemuanmu dengan pagi. Jangan biarkan pagi berlalu tanpa memberimu makna sedikitpun.

Label:

Rabu, 2009 April 01

Ada Tuhan Di Tangan Yang Bergetar (part 2)

Sebuah fenomena baru lahir dari sebuah mesin kecil berukuran tak lebih dari 30 cm x 30 cm. Sebuah mesin yang menyita perhatian anak-anak saat ini. Peradaban pun berganti. Tak ada lagi tertawa riang anak-anak berlari mengejar layang-layang. Tidak ada pula ketegangan di permainan petak umpet. Apalagi bermain patel lele. Jangan pernah berharap melihat anak-anak bermain lempung. Tidak ada yang tertarik menangkap kupu-kupu. Semuanya telah musnah.


Play Station. Tidak ada anak-anak yang tahu kenapa mesin itu dibuat. Play Station di negeri empunya, Jepang, adalah alat yang sangat ampuh untuk mengurangi angka bunuh diri di Jepang. Jepang memang terkenal dengan budaya harakiri atau budaya bunuh diri. Merasa sedikit tertekan, orang Jepang akan melakukan bunuh diri, termasuk anak-anak. Jika anak merasa tertekan seperti di ejek kawannya, atau mendapatkan nilai jelek saat ujian, mereka akan hara-kiri entah menusuk pisau di perutnya, atau lompat dari gedung sekolah.


Pemerintah Jepang sangat sadar, kondisi ini tidak akan mungkin bisa diteruskan. Maka dari itu pemerintah berpikir tentang bagaimana caranya agar menghentikan kondisi ini dengan mengalihkan masalah anak-anak dengan hal lain. Akhirnya terpikirlah untuk membuat game, dan salah satunya adalah Play Station.


Play Station terbukti sangat ampuh untuk mengurangi dan menekan angka bunuh diri. Maka dari itu dunia Play Station semakin dikembangkan. Perkembangan Play Station boleh dibilang cukup pesat. Bukan hanya dipermainannya saja, namun juga Play Station telah membumi. Hampir disetiap negara mengenal Play Station.


Jadi pada hakikatnya, Jepang masih menjadikan belajar dan bekerja sebagai hal yang utama, sedangkan bermain adalah hal sampingan. Namun tidak bagi Indonesia. Justru fenomenanya, Play Station malah dijadikan sebagai hal yang utama, sedangkan belajar dan bekerja menjadi hal yang nomer kesekian. Tiap senang mengingat Play Station dan sedih pun ingat Play Station. Kala senggang bermain Play Station, sibuk pun karena sibuk bermain Play Station. Sebuah fenomena yang aneh bukan?


Jadi, jangan pernah bertanya pada anak-anak jaman sekarang tentang permainan tradisional layaknya yang pernah kita mainkan waktu kecil. Mereka sudah menghilangkan itu semua. Dan jaman pun menjadi menepi, ketika sebuah kebudayaan baru telah menggantikan kebudayaan lama. Tunggu saja, ketika kita meninggal, maka sudah tak ada lagi kata-kata petak umpet, patel lele, dakon, bekel, mobil kardus, truk lempung, mobil jeruk, bermain layangan , gobaksodor, dll. Adik-adik kita dan anak-anak kita telah mengubur dengan rapat budaya kita itu.


Sebenarnya ada nilai edukasi yang sangat tinggi di dalam permainan tradisonal. Anak-anak diajarkan kreatif (apa namanya kalau bukan kreatif, membuat truk dari kardus atau bungkus rokok?), teamwork (seperti bermain di benteng-bentengan), ketelitian, dll. Dan jika ini semua di hilangkan, maka jangan pernah berharap generassi kita selanjutnya akan menjadi anak-anak yang cerdas dan kreatif?


Lalu apa yang diajarkan oleh game Play Station itu?


Game ini hanya membuat anak berpikir instan. Karakter-karakter atau tokoh dalam permainan sudah tersedia oleh mesin, sehingga anak tidak perlu repot lagi membuat karakter baru. Ini akan membuat anak tidak mau berpikir repot. Padahal dalam kehidupan nyata, tidak ada sesuatu yang bisa didapatkan dengan instan. Jika ini akan menjadi sebuah kepribadian dalam diri anak, maka lebih baik kita berdoa saja agar anak tidak tumbuh sebagai seorang kriminal - yang tidak mau bekerja namun ingin kaya.


Game ini juga akan membuat anak selalu ingin menang sendiri dan untuk mendapatkan kemenangan itu, ia harus menghancurkan lawannya. Segala hal akan dihalalkan bagi anak untuk memenangkan permainan itu. Ini akan sangat bertentangan dengan kehidupan nyata karena dalam kehidupan nyata, orang yang sukses adalah orang yang bisa mensukseskan orang lain. Banyak kisah orang sukses yang mengatakan bahwa seorang pemimpin terbaik (orang sukses) adalah pelayan kelas wahid. Terkadang seseorang harus kalah terlebih dahulu sebelum ia menjadi pemenang yang sejati.


Game ini membuat anak tidak mampu berpikir kreatif. Masih berhubungan dengan 2 poin diatas, maka anak tidak mau berusaha untuk mendapatkan keinginannya. Yang ada dibenaknya adalah aku harus menang, akau harus menang, aku harus menang. Mereka melupakan satu hal, PROSES. Dalam proses itulah diri kita akan dilebur untuk menjadi pemenang yang sejati. Dan dalam proses itulah kita dituntut kreatif untuk membuat keputusan yang cepat dan tepat.


Satu hal yang sangat penting dan paling krusial adalah, mereka telah melupakan Tuhan. Sekiranya, Tuhan adalah Dzat yang kita puja dan kita ingat sepanjang waktu kita. Dia-lah yang telah menciptakan kita, maka sudah selayaknya kita mencintaiNya dengan setinggi-tingginya cinta, dan sudah selayaknya pula kita menghormatiNya dengan setinggi-tingginya penghormatan. MenyembahNya dengan setinggi-tingginya persembahan. Me-nomersatu-kanNya diatas segalanya.


Mencintai sesuatu melebihi cinta padaNya merupakan satu bentuk pengkhianatan cinta padaNya. Di agama islam, hal ini dianggap telah menyalahi janji syahadatNya yang mengatakan bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah. Jika memang Tuhan berarti cinta yang tertinggi, penghormatan tertinggi, dan persembahan yang tertinggi, maka mencintai Play Station ini bisa dikatakan sebagai men-Tuhan-kan Play Station. Batal-lah sudah syahadatnya.


“Tapi mereka kan masih anak-anak?”


Sebagian orang mengatakan demikian. Apakah kita masih menawar dengan segala bentuk ketidak benaran? Jika kita terbiasa membiarkan kesalahan-kesalahan kecil, maka nantinya kita akan membiarkan kesalahan-kesalahan besar. Kata pepatah bijak, kita jarang jatuh dengan batu besar, tetapi kita sering jatuh terpeleset oleh kerikil-kerikil kecil.


Jika masa kecil yang sedianya masa yang sangat bagus untuk ditanami ilmu, maupun ideologi apapun, maka bagaimana nasib mereka dimasa yang akan datang? Apakah kita rela jika suatu saat negara kita ini dipenuhi oleh orang-orang yang tidak mengenal Tuhan? Lalu apa bedanya dengan negara-negara komunis?


_ _ _


Play Station, sebuah fenomena baru disurabaya. Hampir disetiap anak kecil memilikinya. Persewaan Play Station pun merebak dimana-mana. Masih banyak pak Nanang – pak Nanang yang lain disetiap daerah disurabaya. Bahkan, demi melihat sebuah peluang yang luar biasa ini, Pak Ari yang rumahnya didekat rumah Diki akan membuka usaha yang sama demi mengisi waktu pensiunnya.


Play Station, sebuah fenomena baru disurabaya. Anak-anak merengek-rengek pada orang tua untuk dibelikannya. Bahkan motivasi belajar anak yang seharusnya dititikkan pada masa depan si anak, berganti menjadi untuk dibelikan Play Station. Uang hasil khitan pun yang biasanya digunakan untuk membeli sepeda, digunakan untuk membeli Play Station.


Sebegitu besar euforia Play Station di kalangan anak-anak, dan sebegitu buruknya dampak bagi si anak baik dari sisi agama maupun dari sisi psikologi, membuat orangtua sepatutnya mengontrol anak, karena masa depan anak akan menjadi taruhannya. Jika sebuah bangsa dibangun atas elemen terkecilnya yaitu keluarga, dan keluarga terdiri dari individu-individu, maka apakah kita akan membiarkan bangsa kita terdiri dari orang-orang yang tidak memiliki kepribadian yang baik dan (parahnya) tidak memiliki kepercayaan yang kuat atas Tuhan?
Wallahualam bishawab

Label:

Ada Tuhan Di Tangan Yang Bergetar (part 1)

Saat pulang sekolah. Saat yang paling ditunggu oleh Diki. Siang itu bagi sebagian besar orang, adalah hari yang panas, namun tidak bagi Diki. Ia bergegas pulang, makan, lalu menuju ke tempat favoritnya di ujung gang sebelah. Tempat itu milik Pak Nanang, berisi sekumpulan TV dan mesin yang dihubungkan dengan kabel dibawahnya. “Nanang PS rental” nama tempat itu.


Bergerombol anak datang kesana. Riuh. Gaduh. Ramai ala anak-anak. Tak mau kalah dengan anak-anak itu, si Diki pun ikut nimbrung disana. Saat itu jam 2 siang, 2 jam setelah ia pulang sekolah. Ia pun masuk dalam daftar antrian untuk menikmati satu permainan yang katanya bisa membuat orang mabuk kepayang. Beruntung saat itu antriannya tidak terlalu panjang, jadi jam 4 sore ia bisa menyewa mesin PS itu. Biasanya jam 6 sore ia baru bisa mendapatkan gilirannya.


Setelah menyerahkan sejumlah uang ke Pak Nanang, Diki pun mulai beraksi. IT’S DIKI TIME.


Ia pun mulai beraksi. Mengambil kaset CD yang bertuliskan “tekken”. Rupanya ia ingin bertarung didunia maya. Tidak nyata. Namun ia senang memainkannya. Dia tidak sendiri, ia mengajak Prabowo. Mereka memang kawan sekaligus lawan yang baik dalam hal ini. Namun kali ini pertarungan mereka bukan sekedar pertarungan. Lebih dari itu, mereka sedang bertaruh. Dan kali ini bukan sekedar pertaruhan biasa. Pertaruhan masa depan, kata mereka. Ini semua demi Nadia dan harga diri.


Rupa-rupanya ini adalah pertaruhan demi mendapatkan Nadia, teman sekelasnya di salah satu SMP negeri di Surabaya. Nadia memang cewek idaman disekolahnya. Parasnya yang cantik dan otaknya yang encer selalu membuat kaum adam yang melihatnya ingin selalu dekat dan bahkan memilikinya. Nadia memang pantas untuk diperebutkan. Memiliki Nadia berarti sebuah kehormatan yang luar biasa, pasalnya Nadia memang sulit untuk ditaklukan. Dan kalah dalam pertaruhan mendapatkan Nadia berarti menggadaikan harga diri dengan harga yang sangat rendah.


Diki memilih Edi karena Diki tertarik dengan gaya sambanya. Dia memang Sambamania. Sedangkan Prabowo, dia terobsesi dengan Mike Tyson, petinju legendaris berkulit hitam itu, makanya dia memilih Paul yang memiliki ajian mumpung pukulan maut yang bisa menghabiskan darah hingga 50 %. Sekali hantam dan mengenai lawan, maka bups, hancurlah si lawan.


Mereka pun “bertarung” di bidang layar datar 14 inch. Mata mereka tak lepas dari TV bermerk Panasonic itu. Sedangkan tangan mereka dengan asik dan lincahnya memainkan joystick dari mesin yang bernama PS itu.


Mereka sepakat mereka akan bertarung sebanyak 5 kali. Siapa saja yang bisa memenangkan pertarungan hingga 3 kali, maka dialah yang menang.


Demi memenangkan pertaruhan ini, mereka pun latihan beberapa kali. Inilah saatnya. Saat menunjukkan harga diri. Harga diri yang bisa diperoleh dengan mendapatkan Nadia.


Stik mereka tak henti bergetar seiring dengan pukulan yang dilayangkan lawan pada pemainnya. Si Paul memukul Edi, dan Edi pun mendaratkan tendangan mautnya ke muka Paul. Bergetarnya stik berarti pemain mereka telah terkena pukulan atau tendangan lawan. Permainan semakin seru karena selain memukul, mereka juga punya jurus-jurus untuk menghindar dari lawan. Maka pertarungan ini lebih dari sekedar memukul dan menendang, namun juga strategi. Strategi bagaimana caranya mendapatkan saat dimana musuh lengah. Sekali lengah, itulah saat yang tepat memukul lawan.


Edi yang biasanya menendang keatas, membuat Paul hanya melindungi bagian kepala saja. Saat itulah, saat yang tepat bagi si Edi untuk menendang bagian kaki si Paul. Paul pun jatuh, dan bergetarlah stik Prabowo.


Prabowo pun geram, ia semakin serius. Paul melompat melewati si Edi. Dari arah belakang, Paul memukul Edi dengan full power. Maka habislah riwayat si Edi. Babak ini pun (kembali) dimenangkan oleh Prabowo. Itu adalah kemenangan kedua Prabowo setelah kalah 2 babak dengan Diki. Saat ini skor mereka sama 2 – 2. Dan saatnya babak terakhir.


Tak mau tertipu dengan trik-trik sebelumnya, mata mereka jauh lebih waspada menatap layar TV itu. Ini adalah babak penentuan siapa yang lebih unggul. Bayangan wajah Nadia terlintas di benak Diki, seolah-olah Nadia duduk dipinggir arena dan menyoraki dirinya. “ayo kang Diki, berjuanglah, demi adinda…..jangan kalah” barangkali itu teriakan Nadia dalam pikiran Diki.


Setelah sekian lama bertahan dari serangan-serangan lawan, akhirnya pertarungan pun dimenangkan oleh Diki. Ah, Diki pun senang, sesenang Pak Nanang karena waktu sewa mereka sudah habis. Ini berarti giliran yang lain menggantikan Diki dan Prabowo, dan berarti pak Nanang menerima uang sewa lagi, 2 ribu per jamnya. Kata Robert T. Kiyosaki, usaha Pak Nanang ini adalah program dimana uang bekerja untuk kita. Pak Nanang tidak perlu bekerja untuk mendapatkan uang. Cukup duduk saja dibalik sebuah meja kecil dengan laci dibawahnya, tempat menaruh duit.


Tak terasa, jam dinding di rumah pak Nanang menunjukkan pukul 8 malam. Saatnya Diki pulang. Baru jam segitu si Diki merasakan lapar menyerang perutnya. Permainan Play Station yang oleh banyak orang diubah menjadi ple setan itu telah menyihir Diki untuk tidak memperhatikan cacing diperutnya. Dia tak mampu lagi merasakan lapar.
Seperti biasa, sesampainya dirumah, amarah ibu pun menunggunya disana. Si ibu telah menyiapkan berbagai hal untuk dijadikan bahan marah, biasanya dimulai dengan “dari mana saja kamu?”, lalu dilanjutkan dengan “apa kamu sudah belajar”, “dasar anak tak berguna, bisanya cuma main aja”, “apa kamu tidak tahu, orang tua kerja keras seperti apa?”. Bagi Diki, ini adalah sebuah hal yang biasa, untuk itu ia hanya mencibirkan bibirnya kesamping. ia tak peduli pada ibunya. Dibenaknya hanya ada Nadia, Nadia, dan Nadia. Diki tak sabar menunggu besok, karena besok adalah hari dimana Diki bisa dengan bebas “menembak” Nadia.


_ _ _


Ternyata hari yang indah itu tak seindah yang dibayangkan. Penembakan Diki ditolak mentah-mentah oleh Nadia. Hari itu rasanya bagai hari yang suram bagi dia. Ditolak Nadia berarti pupuslah sudah harga dirinya.


Setelah bernegosiasi dengan dirinya sendiri, bahwa cewek didunia ini tak hanya Nadia, selanjutnya ia tersenyum. Senyumnya itu lebih mirip dengan menghibur diri sendiri. Senyum itu menandakan kalau ia telah menemukan sesuatu. Dan sesuatu itu, tidak lain tidak bukan adalah “Nanang PS rental”. Sepertinya, tak apalah jika ditolak Nadia, toh Diki masih bisa main PS.


Dan Diki pun bergegas ke ujung gang sebelah rumahnya. PS - Play Station, sebuah benda yang sanggup membuat Diki tersenyum kembali. Benda itu pulalah yang mengisi setiap hari-hari si Diki.

Label:

Minggu, 2009 Maret 22

kiat menjadi guru les

sudah sedari dulu ingin aku ungkapkan perasaan ini. halah. puitis banget.
ya. aku udah 5 tahun menjadi guru les. semua diawali dari merosotnya prestasi rifki, murid pertamaku.
dia masuk di urutan 36 dari 40 siswa. orangtuanya yang lagi gamang saat itu memintaku untuk ngajar anaknya. aku pun mengiyakannya, itung-2 biar masih ingat pelajaran.hehehe.
eh ternyata aku kualat, si rifki secara drastis prestasinya naik tajam. ia berhasil menduduki peringkat ke 3 di kelasnya (kebetulan disekolahnya ada report prestasi tiap bulan). dari sana aku menyadari potensiku sebagai seorang guru.

dari keberhasilanku mengajar rifki inilah, si Fita-teman sekelasnya yang juga anak dari sahabat mamanya rifki, meminta aku untuk mengajarnya juga. belum nampak perubahan drastis di Fita. namun semester berikutnya (ketika ia menginjak SMP) aku mencoba untuk menggenjot prsetasi fita, dan ia pun berhasil meraih juara 1 paralel disekolahnya.

ah aku semakin menjadi-jadi. aku semakin ingin mempositioningkan diriku sebagai guru. dan untuk saat ini aku baru bisa menjadi guru les. it's ok.

lalu muridku berikutnya adalah si Zafid. 2 bulan lagi (saat itu) ia akan mengikuti Unas SMP. dari tes awal yang aku berikan padanya, akau baru menyadari, sepertinya daya pikirnya tidak selayaknya anak SMP kelas 3, tetapi kls 5 SD dimana masih kesulitan untuk menjumlahkan pecahan, perkalian, dll.
cukup miris. namun aku harus membangun strategi agar ia bisa berhasil.
blablablabla....
2 bulan yang cukup menegangkan, setiap hari ia menunjukkan progres yang luar binasa (luar biasa, maksudnya), yang pada akhirnya aku baru tahu kalo ternyata ia mendapatkan nilai 9 di unas matematikanya. wouw....
aku semakin menjadi-jadi.

aku pun lalu terkenal sebagai ahli "spesialis menjelang unas". hahaha. gelaryang diberikan oleh orangtua siswa.

dari orangtua siswa itulah maka aku semakin lama semakin dikenal. dan sekarang aku sendiri tidak bisa menghitung jumlah muridku lagi. sebagian besar harus aku berhentikan karena waktu yang sangat tidak memungkinkan, maka aku pun memilih beberapa murid dengan pertimbangan :
1. jarak (aku ambil yang dekat dengan rumah, dan dekat dengan kampus)
2. yang jauh lebih membutuhkanku (ada beberapa siswa yang sudah pandai dan sudah "bisa dilepas", maka aku melepaskan)
3. murid-2 lama (rifki, fita adalah priorotasku. anaknya asik pol buat guyon. udah aku anggap adik kandung sendiri. apalagi setelah mamanya fita meninggal).
4. gajinya yang besar (hehehe ga munafik aku juga butuh duit. jadinya harus mencari siswa yang bisa kasih gaji tinggi. lho?). tapi ga segitunya kok. walaupun gajinya tinggi tapi kalo jaraknya jauh ya males. pernah ditawari kawan untuk mengajar dengan gaji 150ribu / pertemuan. wouw. gila aja. aku aja di Sby paling mahal 50 ribu / pertemuan. tapi jauhnya itu loh....jakarta men!!!

diartikel ini aku mau cerita tentang murid-2ku, prestasinya, sifatnya, dll. tapi ntar ya....

pelan-2

aku harus adaptasi dengan internet dulu setelah sekian lama ga megang blas.hahaha

Label:

Jumat, 2009 Maret 20

sekolah gratis didepan mata

kawan, masih ingatkah kau tentang sekolah gratis yang udah lama aku idamkan itu?

bu Asih adalah orang yang bersedia memberikan rumah dan tanahnya demi niat baik itu. bua Asih adalah janda tua tanpa anak. dia berharap dengan adanya sekolah itu, maka akan ada anak yang akan mendoakannya.

sudah sekitar setahun lalu bu Asih berikrar mau memberikan rumah dan tanah itu. di tahun 2009 ini dia berharap urusan sudah selesai, dan rumah itu sudah atas namaku.

akhir bulan pebruari, dia pamit ke aku mau ke jombang, mau menyampaikan hal ini ke saudara-2nya disana. dia juga mau membuat surat wasiat dan mengurus beberapa surat-2 penting disana.

hari jumat tanggal 6 maret, ketika aku sedang asik mengajar anak-anak bimbingan unas-ku, tiba-2 hapeku berbunyi. bu Sri (sahabat bu asih) memberi kabar kalo bu Asih telah tiada.

tanpa selembar surat pun. tanpa bukti apa-2. tanpa mengenal saudara-2nya. dll. kawan bisakah kau merasakan bagaimana perasaanku?
demi Tuhan aku ga melihat rumah itu. tapi aku melihat niat baik bu Asih dan kebutuhannya akan doa dan amal shaleh. aku juga melihat amanah bu Asih yang dengan kesungguhannya mempercayakannya padaku.

kawan, jika aku memperjuangkan rumah itu, aku akan terlihat seperti orang bodoh yang serakah dan mau memanfaatkan kesempatan. namun jika aku tidak memperjuangkannya, bagaimana nasib Bu ASih "disana"?

kawan bantu aku, beri aku masukan.
sekolah itu harus ada. bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?
secepat inikah?

Label:

penyakit iseng

dalam kesibukan ini aku merasakan banyak hal baru datang padaku. merasakan kerja lebih dari 16 jam sehari membuatku merasa lelah namun puas.

ayah, aku telah buktikan omonganmu. kamu dulu pernah bilang kalo orang kerja itu jangan samapi terkena matahari. dan anakmu ini telah melakukannya. aku kerja dari jam 6 pagi hingga jam 10 malam ayah.
dan jika malam itu aku merasakan capek, aku selalu berdoa untukmu. bukankah katamu, doa orang yang kecapekan itu akan didengar oleh Allah. bukankah Allah telah berjanji bahwa doa anak sholeh nanti akan menjadi amalanmu meski kau telah tiada.

ayah, aku cinta padamu.


dengan kesibukan ini pula aku merasa telah berdosa pada Allah karena telah menggunakan "badan" milikNya, tanpa pernah aku rawat. beberapa waktu lalu aku terkena sakit tenggorokan gara-2 mengajar di aula besar tanpa mic, dan itu dari pagi hingga malam. suaraku pun hilang. aku ke dokter, eh ternyata malah mal praktek. aku diberi obat yang salah. setelah minum obat dari dokter utk pertama kalinya, langsung tumbuh satu bisul dikakiku.
aku kaget, kirain cacar. gila aja.aku kan dah pernah cacar.
kuatirku beralasan, pasalnya tetangga depan rumah juga lagi cacar.

malam minum obat lagi eh malah tumbuh banyak tuh bisul. kau periksakan lagi ke dokter itu. eh katanya salah obat. ya udah, obatnya diganti. setelah obatnya habis, eh ternyata tumbuh satu bisul. dan semakin hari semakin membesar.
gila, gara2 satu bisul dikaki itu, rasa-2nya tubuh ini mati kaku. seluruh badanku linu. pegal-pegal. persis kayak iklannya karol superpil. seminggu aku lumpuh dibuatnya.

arrrrgh.

satu bisul yang berarti sejuta peringatan dari Allah, bahwasanya kalo pinjam barang itu ya harus dirawat (kan badanku ini miliknya Allah). bisul itu juga berarti bahwa tak perlu susah bagi Allah untuk melenyapkan HambaNya, cukup dikirim satu benda kecil bernama "bisul". udah deh pokoknya hanya ditangan Allah-lah nyawa kita berada.
taubat yukkkk.....!!!

masih tentang dokter yang salah obat itu.
aku datang untuk yang ketiga kalinya demi menanyakan nasib satu benjulan itu.
eh dengan tatapan mata yang jijik (seolah-olah aku ini penyakit menular), ia menatapku dari jarak yang jauh. dokter itu memang seperti itu. dulu aku pernah melaporkannya karena setiap pasiennya datang kesanag, tak pernah diperiksa denyut jantungnya, nadinya, atau apapun. jangankan berharap disuntik, memegang pasiennya aja ia tak mau. hanya ditanya kenapa, suruh buka mulut, dari jauh ia mengarahkan lampu senternya ke mulut, menulis resep, sudah.

tapi apa yang ia lakukan saat ini sangat keterlaluan. selain tidak mau bertanggung jawab atas bisul itu, dengan seenaknya ia menghakimi aku kena diabetes. shit. kalo ga tahu apa-2 jangan langsung judge gitu dong.
kalo ga mau meriksa pasien, kalo jijik sama penyakit, ya ga usah jadi dokter.

oya....dokter itu ga lain ga bukan adalah dokternya medical center ITS. heh bu, jangan mentang-2 kami gratis disana, lalu kamu bisa seenaknya saja. toh kamu juga dibayar pakai duit SPP kami.

arrrrgh.

hari jumat ini, aku sengaja ga mengisi jadwalku. aku mau ke dokter bedah. katanya cuma bisul biasa aja kok. tapi belum waktunya keluar udah keluar. aku jadi inget beberapa waktu lalu aku pake jeans, dan akhirnya bisul kepencet. pecah deh. nah....itu baru diagnosa yang bagus. aku pun membenarkannya. aku disuntik (ah, udah lama ga suntik, jadinya terasa banget. hahaha). dan ga butuh waktu lama, pegel dan linu-ku udah hilang. trus habis minum obat dari dokter itu pecahlah sudah bisulku.
hahahahaha.


itulah kawan. jangan remehkan benda kecil itu. sumpah. sakit banget. aku pun pernah sampai seminggu ga masuk kuliah gara-2 bisul itu. hahaha. gmn mau masuk, ngangkat kaki aja ga bisa. semuanya kaku.

ya Allah ampuni aku.

Label:

Rabu, 2009 Maret 11

stuck on me!!!!

aduh.....lagi stuck....en capek....sibuk......banyak kerjaan.....
maaf teman-2 belum sempat posting-2 an lagi.
aku janji dalam waktu dekat posting lagi.hehehehe

Label:

Minggu, 2009 Januari 18

visualisasi Tuhan (part 2)

Orang-orang yang bergerak dibidang seni dan desain (NB: agar menyingkat tulisan, maka kita sebut mereka sebagai desainer) adalah orang-orang yang unik. Orang-orang ini adalah orang yang memiliki alam pikiran yang luas, liar, tak terbendung. Tak ada yang mampu mengejar pikirannya yang terbang kemana-mana. Mereka berpikir sesuatu yang oleh orang lain pikir itu tidak mungkin. Itulah letak ke”aneh”annya.


Kehebatannya menjangkau sesuatu diluar nalar ternyata tidak dimiliki oleh semua orang. Desainer memiliki kecenderungan berpikir memvisualkan apa yang ada didalam pikirannya. Bobby De Potter dalam bukunya ”Quantum Learning”, mengatakan orang-orang ini termasuk dalam kategori pembelajar tipe visual, yakni selalu memvisualkan semua hal, termasuk verbal maupun auditorial. Misalnya, jika desainer disuruh untuk mendiskripsikan tentang jeruk, maka ia segera berpikir tentang gambar jeruk, lalu mencoba menggambarkan jeruk lewat sebuah gambar. Dengan secepat mungkin ia mentransfer apa yang ada didalam pikirannya ke gambar tersebut.


Lalu bagaimana cara desainer dalam belajar tentang Tuhan? Bagaimana perjalanan spiritual para desainer dan kaum seniman? Apakah ia masih menggunakan daya visualnya untuk memahami makna Tuhan?


Saya (penulis) jadi teringat akan satu kenyataan di India dan Cina. Kedua negara itu sejak dulu sudah terkenal sebagai negara yang memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Jauh sebelum revolusi industri di Inggris, atau restorasi Meiji di Jepang, kedua negara itu sudah memiliki peradaban yang sangat tinggi. India dan Cina terkenal sebagai negara penghasil sutera dan perabotan dari guci, emas, dan perak.
Kedua negara itu ternyata memiliki cara sendiri dalam memahami makna Tuhan. Mereka memvisualisasikan Tuhan dalam bentuk berbagai macam patung dan sesembahan yang lain. Bagi mereka, ini adalah kepercayaan mereka. Namun sejatinya apa yang mereka sembah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Patung dan sesembahan-sesembahan itu tak lain tak bukan, hanyalah bukti kepercayaan mereka terhadap Tuhan yang mereka wujudkan lewat jiwa seni mereka yang sangat tinggi.


Tak jauh dari orang India dan Cina, para desainer pun juga berpikir seperti itu. Hanya saja tidak semua desainer mewujudkannya dalam bentuk patung, namun bentuk-bentuk visual yang lain. Apapun bentuknya itu, mereka akan memvisualkan fisik Tuhan. Sebagian desainer menggambarkan Tuhan dalam bentuk sosok raja, lengkap dengan singgasana kerajaannya. Dikepala raja itu, ada sebuah mahkota bertahtakan emas dan berlian yang paling indah. Mungkin juga Tuhan diwujudkan sebagai sesosok Makhluk yang sangat besar, besar sekali hingga tak ada yang mampu menandinginya.


Lalu bagaimana islam memandang hal ini? Bagaimana islam mengajarkan umatnya dalam memahami Tuhannya?


Sebelum kita membahas ini, maka kita harus menyamakan persepsi bahwa jika ada dua hal yang berbeda sifat maka dua hal tersebut tidak dapat dijadikan satu. Contohnya minyak dan air, atau mungkin bangun segitiga dan lingkaran. Selain itu, kita juga harus menyamakan persepsi bahwa sesuatu yang tidak bisa kita lihat maka bukan berarti tidak ada. Ada sesuatu yang tidak bisa kita lihat, namun esensinya ada, listrik misalnya.
Apa yang dilakukan oleh seniman di India maupun di Cina, dan juga para desainer adalah bukti kepercayaannya pada Tuhan. Mereka memahami Tuhan berdasarkan caranya.

Adakah yang salah dari ini semua? Kita perlu hati-hati dalam menyikapinya.


Sebenarnya tidak salah jika mereka mempercayai adanya Tuhan, karena memang Tuhan itu ada. Namun cara mereka memahami Tuhan sangat keliru.
Eksistensi Tuhan tidak terpengaruh oleh kepercayaan kita. Kita percaya ataupun tidak, Tuhan tetap ada. Esensinya, bagaimanapun cara kita memahami Tuhan, ia akan tetap ada. Memvisualisasikan Tuhan kedalam wujud yang ada dalam pikiran manusia adalah sebuah dosa besar.


Sabda Allah dalam kitab suciNya Al-Quran mengatakan bahwa ”....sesungguhnya dari penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kekuasaanNya bagi orang-orang yang berpikir”.


Jika kita terdampar disatu pedesaan yang kita tidak mengenalnya, lalu kita menebang salah satu pohon kecil disana. Tidak lama setelah itu datang puluhan orang mendatangi kita, dan dengan paksa menghukum kita atas kesalahan kita menebang pohon tadi.
Dari hukum yang berlaku disana, maka kita yakin ada sebuah sistem yang berlaku disana. Jika ada sebuah sistem, secara langsung maupun tak langsung, kita harus mempercayai bahwa ada seorang pemimpin disana. Seorang pemimpin yang membuat, melaksanakan dan mengontrol jalannya sistem yang ada didaerah itu.


Sama halnya dengan memaknai Tuhan, dengan hanya mengetahui adanya alam ini dan sistem yang berlaku dialam ini (hujan, bumi berputar, siang, malam, dll) maka cukup sudah kita mengetahui bahwa ada Dzat yang memimpin ini semua. Dialah Tuhan. Kita tidak perlu memvisualisasikannya, apalagi mewujudkannya dalam bentuk fisik. Tuhan tidak sama dengan makhlukNya, apalagi dengan makhluk ciptaan makhlukNya (patung, bendera, simbol-simbol, dll). Sangat jauh.


Pikiran manusia terbatas. Sedangkan Tuhan itu tidak terbatas. Seperti yang kita setujui, bahwa 2 hal yang berbeda tidak akan bisa disatukan. Kebesaran Tuhan itu tidak terbatas. Sedangkan pikiran manusia yang terbatas, pasti akan menggambarkan kebesaran Tuhan yang terbatas pula, sebatas apa yang bisa dipikirkannya. Mungkin setiap manusia menggambarkan kebesaran Tuhan sebesar 10 cm2, atau 10 km2, atau 1juta km2, atau berapapun itu pasti ada batasannya. Sayangnya, kebesaran Tuhan itu tidak terbatas, apalagi dibatasi oleh pikiran manusia. Jika kita berani memvisualkan Tuhan, maka kita telah berani membatasi Tuhan. Dan jelas, ini adalah satu kesalahan besar karena kita telah menggeser makna ke-Maha Besar-an Tuhan sebesar pikiran kita saja.
Tuhan tidak terbatas ruang dan waktu karena pada dasarnya ruang dan waktu adalah ciptaanNya. Ke-Maha Awal-an Tuhan tidak dibatasi dengan adanya Nabi Adam dialam ini. Ke-Maha Akhir-an Tuhan juga tidak dibatasi dengan adanya kiamat yang sangat jelas diterangkan di Al Quran. Jadi jangan pernah membayangkan Tuhan berada di satu waktu tertentu dan satu tempat tertentu.


Ada satu privasi Tuhan yang tidak bisa kita tembus. Itulah mengapa kita harus menyetujui bahwa jika ada 2 hal yang berbeda, maka 2 hal itu tidak akan pernah bisa disatukan. Tuhan hanya mengijinkan kita memahamiNya lewat alam ciptaanNya ini. Tidak ada yang sanggup melihat Tuhan, bahkan ketika Nabi Musa hendak bertemu Allah, seluruh gunung meletus dan Nabi Musa pun pingsan. Padahal pada saat itu, Allah hanya menunjukkan Nur-Nya saja.


Selain melihat alam ciptaanNya, kita juga bisa melihat Tuhan dengan segala sifat-sifat baiknya. Jika didalam hati kita terbesit untuk jujur, maka yakinlah itu dari Tuhan. Jika kita melihat orang yang sangat pemaaf, maka yakinlah, Tuhan jauh lebih pemaaf dari hambaNya. Karena semua sifat baik adalah milik Tuhan.


Sama halnya jika kita melihat sebuah produk, Aqua misalnya. Dari produknya yang bisa kita beli ditoko-toko atau kantin kampus, maka kita bisa meyakini bahwa disana (entah dimana) pasti terdapat pabrik Aqua. Artinya, dari eksistensi produknya maka kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa produk itu ada produsennya. Kita tidak perlu datang ke pabrik Aqua untuk memastikan apakah pabrik Aqua itu memang benar-benar ada atau tidak, bukan? Cukup dengan melihat gelas atau botol Aqua saja kita bisa melihat adanya pabrik Aqua.


Dan alangkah salahnya jika kita menggambarkan pabrik Aqua dengan imajinasi kita, sementara kita belum pernah datang ke pabriknya secara langsung. Bisa saja kita berimajinasi bahwa pabrik Aqua itu adalah sebuah kolam yang sangat besar yang didalamnya ada ikan-ikan besar seperti paus, dll. Atau kita juga bisa menggambarkan pabrik Aqua seperti gubuk kecil ditengah sawah yang dipinggirnya ada sumur kecil yang menyemprotkan airnya sampai keatas. Semua gambaran bisa saja keluar, namun sayangnya semua keliru.


Mengingat hal ini sudah sangat jelas berdosa, maka sudah semestinya institusi pendidikan yang mengajarkan tentang seni atau desain juga harus mengajarkan akidah yang cukup mendalam pada mahasiswanya. Pengetahuan tentang visualisasi Tuhan seharusnya dijadikan dasar dalam memaknai Tuhan dan menjalankan perintah agamanya. Sudah menjadi tanggung jawab bersama, khususnya perkuliahan agama yang ditunjang dengan kajian agama dijurusan atau sie kerohanian untuk merumuskan satu kurikulum yang tepat dalam pembangunan akidah sehingga mahasiswanya tidak salah dalam memahami agama dan Tuhan.


Ada 2 alasan mengapa kurikulum ini benar-benar menjadi urgensi yang harus segera dilakukan. Yang pertama, peminat jurusan yang menawarkan kebebasan dalam berkreasi ini menjadi meningkat tajam. Dari tahun ke tahun jumlah calon mahasiswa yang mengikuti UMDESAIN semakin meningkat. Beberapa perguruan tinggi sudah banyak yang mulai membuka jurusan ini. Bahkan meskipun perguruan tinggi tersebut tidak memiliki korelasi yang tepat dengan jurusan desain. Rasanya tidak afdol jika tidak membuka jurusan desain.


Alasan kedua adalah, desain, terutama desain grafis, bersifat sangat provokatif. Pekerjaan sehari-harinya adalah membuat iklan. Iklan sangat dekat dekat konsumen. Setiap hari dan setiap saat kita selalu disuguhi dengan iklan. Dari bangun tidur hingga kembali tidur, iklan tidak berhenti menyerang kita lewat berbagai media. Awalnya tidak membeli, menjadi membeli. Ini semua karena kemampuan desainer iklan dalam memprovokasi konsumen.


Sekarang bayangkan, bagaimana nasib dunia ini jika memang kita diprovokasi oleh orang-orang yang memiliki pemahaman akan Tuhan sangat terbatas? Bisa jadi, mereka (dengan segala kemampuannya) akan meracuni pikiran konsumen dengan nilai-nilai dan ideologi yang dianutnya. Astaghfirullah.


Sebagai insan pendidikan, sudah selayaknya kita meng-edukasi pikiran kita semua agar tidak memvisualkan Tuhan, dan tidak membatasi Tuhan dengan visual kita. Jika kita memang percaya Tuhan Maha Pengampun, maka mengapa kita tidak memohon ampun padaNya atas segala kesalahan kita? Wallahualam bis shawab.

Label:

visualisasi Tuhan (part 1)

Sekiranya benar jika ada orang yang mengatakan bahwa kita adalah makhluk yang percaya adanya Tuhan. Setiap orang didunia ini percaya akan adanya Tuhan. Mencari Tuhan adalah sesuatu yang sudah lama dilakukan oleh manusia didunia ini bahkan jauh sebelum masa kita sekalipun.


Mungkin masih terngiang dibenak kita bagaimana guru ngaji kita pernah bercerita tentang pencarian Nabi Musa terhadap Tuhannya. Ia (Nabi Musa) tak percaya bahwa sapi betina adalah Tuhan manusia. Meski mengalami perang batin yang sedemikian dahsyatnya, namun ia tetap percaya bahwa Tuhan itu ada, dan itu bukan sapi betina seperti yang disembah oleh kaum yahudi saat itu. Sama bergejolaknya seperti Nabi Musa, Nabi Ibrahim pun tak percaya bahwa patung-patung buatan ayahnya yang disembah oleh Namrud dan kaumnya adalah Tuhan sebenarnya.


Memang, mencari Tuhan adalah fitrah manusia. Tak bisa dipungkiri, setiap kita pasti merasakan apa yang disebut dengan pengalaman spiritual dalam mencari Tuhan. Ada yang menemukan Tuhan ketika ia berhutang. Ada yang menemukan Tuhan selepas ia dilanda bencana. Ada pula yang menemukan Tuhan dengan berkelana seperti film bertajuk pengembara Tuhan yang diperankan oleh Deddy Mizwar beberapa tahun yang lalu ketika kita masih kecil.


Omong kosong, jika ada yang tidak percaya adanya Tuhan. Firaun pun, sebelum ia tewas tenggelam dilaut merah, akhirnya percaya akan ajaran nabi Musa. Juga ratu Rusia. Semua orang tahu, Rusia adalah Negara komunis-sosialis yang sangat tidak percaya adanya Tuhan. Ia pun mengucapkan kebesaran Tuhan seraya takjub, dalam acara pertunjukan atraksi pesawat tempur dinegaranya. Nenek moyang kita yang beralirankan animisme dan dinamisme pun percaya adanya Dzat ghoib yang menguasai manusia, meski apa yang mereka lakukan kita anggap salah.


Lalu bagaimana dengan pengalaman spiritual kaum yang mengaku seniman atau desainer dalam mencari Tuhannya?

Label: